almanak

Surawisesa; Prabu Surawisesa Jayaprakosa

Surawisesa Jayaprakosa adalah raja Sunda-Pajaran pengganti Sri Baduga Maharaja. Ia adalah putra Sri Baduga dari Mayang Sunda (Kentring Manik Mayang), jadi cucu Prabu Susuktunggal sekaligus cucu Ningratkancana (Dewa Niskala).

PublishedMarch 4, 2009

byDgraft Outline

Sebelum menjadi raja, Surawisesa oleh Sri Baduga ayahnnya, pada 1512, diperintahkan untuk menghubungi Alfonso d’Albuquerque, Panglima Portugis di Malaka.

Kepergiannya guna mencari bantuan militer dalam menghadapi kekuatan Demak-Cirebon. Ia ditunjuk sebagai penguasa ( tohaan ) di daerah Sanghyang yang meliputi Pelabuhan Sunda Kapala. Maka dari itu, oleh penulis Portugis Tome Pires ia ditulis Ratu Samian.

Dengan pengirimannya ke Malaka, Sri Baduga mengharapkan agar Surawisesa menjadi raja pedagang bukan raja pedalaman seperti dirinya. Surawisesa kemudian ditunjuk sebagai pemimpin misi Pajajaran ke Malaka.

Ada pun tokoh Ratu Sanghyang (Sangiang) dalam Carita Parahyangan yang diberitakan gugur dalam perang menghadapi pasukan Islam, bukanlah Sanghyang Surawisesa, melainkan pengganti Surawisesa di wilayah Sanghyang (Tohaan Sanghyang) setelah Surawisesa dinobatkan menjadi ratu di Pakuan. Ada pun tokoh Sanghyang yang gugur dalam perang itu meninggal pada masa pemerintahan Nilankendra, ketika Pakuan diserbu Banten.

Table of contents

Open Table of contents

Penobatan

Surawisesa dinobatkan menjadi raja Pajajaran pada 1521, bertepatan dengan penobatan Sultan Trenggana menjadi sultan Demak. Penobatannya dihadiri oleh orang-orang Portugis yang tiba di Pakuan sebagai kunjungan balasan mereka yang sebelumnya. Pimpinan Portugis ketika itu adalah Hendrik de Leme alias Hendrik Bule, ipar Alfonso d’Albuquerque.

Setelah menjadi raja di Pakuan, Surawisesa untuk kedua kalinya membuat perjanjian kerjasama dengan Portugis, pada 21 Agustus 1522. Naskah yang dibuat dua rangkap—masing-masing memegang satu naskah. Melalui perjanjian ini, Portugis diizinkan mendirikan benteng dan gudang dagang di pelabuhan Sunda Kalapa. Sebagai balasannya, Portugis harus membantu Pajajaran dalam menghadapi Cirebon-Demak.

Surawisesa dalam Carita Parahyangan

Surawisesa dipuji oleh Carita Parahyangan dengan sebutan “ kasuran ” (perwira), “ kadiran ” (perkasa), dan “ kuwanen ” (pemberani). Selama 14 tahun memerintah Surawisesa melakukan 15 kali pertempuran. Pujian penulis Carita Parahyangan terhadapnya memang berkaitan dengan hal ini.

Cerita Parahyangan menceritakan bahwa selama berkuasa, Surawisesa melakukan peperangan selama 15 kali dan semuanya tak terkalahkan. Namun, naskah ini tak menceritakan, pihak mana yang memulai peperangan, apakah Pajajaran atau pihak musuh. Dalam kenyataannya, selama ia memerintah Pajajaran justru banyak kehilangan wilayah kekuasaannya.

Dua pelabuhannya berturut-turut jatuh ke pihak Demak-Cirebon-Banten: tahun 1526 pelabuhan Banten, tahun 1527 Sunda Kalapa. Pada tahun berikutnya, 1528, peperangan bergeser ke timur, di Rajagaluh, Majalengka. Dua tahun berikutnya, 1530, terjadi peperangan di Talaga, di mana salah seorang istri Surawisesa berasal dari daerah ini. Dalam Sajarah Talaga, Surawisesa dikenal dengan tokoh Pucuk Umun, dan istrinya disebut sebagai ahli waris Kerajaan Talaga.

Perjanjian dengan Portugis

Nagarakretabhumi menyebut Surawisesa sebagai Guru Gantangan. Nagara k retabhumi pupuh I sarga 2 dan sumber Portugis mengisahkan bahwa Surawisesa pernah diutus ayahnya menghubungi Alfonso d’Albuquerque, Laksamana Bungker, di Malaka.

Ia pergi ke Malaka dua kali (1512 dan 1521). Hasil kunjungan pertama adalah kunjungan penjajakan pihak Portugis pada tahun 1513 yang diikuti oleh Tome Pires, sedangkan hasil kunjungan yang kedua adalah kedatangan utusan Portugis yang dipimpin oleh Hendrik de Leme, ipar Alfonso, ke ibukota Pakuan.

Dalam kunjungan itu disepakati persetujuan antara Pajajaran dan Portugis mengenai perdagangan dan keamanan. Ten Dam menganggap bahwa perjanjian itu hanya lisan, akan tetapi sumber Portugis yang kemudian dikutip Hageman menyebutkan “ Van deze overeenkomst werd een geschrift opgemaakt in dubbel, waarvan elke partij een behield ” (Perjanjian ini dibuat tulisan rangkap dua, lalu masing-masing pihak memegang satu). Menurut Soekanto (1956) perjanjian itu ditandatangani pada 21 Agustus 1522.

Dalam perjanjian itu disepakati bahwa Portugis akan mendirikan benteng di Banten dan Kalapa. Untuk itu, tiap kapal Portugis yang datang akan diberi muatan lada yang harus ditukar dengan barang-barang keperluan yang diminta oleh pihak Sunda. Kemudian pada saat benteng mulai dibangun, pihak Sunda akan menyerahkan 1.000 karung lada tiap tahun untuk ditukarkan dengan muatan sebanyak dua “ costumodos ” yang beratnya kurang lebih 351 kuintal.

Perjanjian Pajajaran-Portugis sangat mencemaskan Sultan Trenggana, penguasa ketiga Demak. Selat Malaka sebagai pintu masuk perairan Nusantara di sebelah utara sudah dikuasai Portugis yang berkedudukan di Malaka dan Pasai. Bila Selat Sunda yang menjadi pintu masuk perairan Nusantara di selatan juga dikuasai Portugis, maka jalur perdagangan laut yang menjadi urat nadi kehidupan ekonomi Demak terancam putus.

Trenggana segera mengirim armadanya di bawah pimpinan Fadillah Khan yang menjadi Senapati Demak. Barros menyebut Fadillah dengan Faletehan, lafal Portugis untuk Fadillah Khan. Pinto menyebut Tagaril untuk Ki Fadil (julukan Fadillah Khan sehari-hari). Carita Parahyangan menyebut Fadillah dengan Arya Burah.

Melawan Demak-Cirebon

Pasukan Fadillah yang merupakan gabungan pasukan Demak-Cirebon berjumlah 1.967 orang. Sasaran pertama adalah Banten, pintu masuk Selat Sunda. Kedatangan pasukan Fadillah menyebabkan pasukan Banten terdesak. Bupati Banten beserta keluarga dan pembesar keratonnya mengungsi ke Pakuan. Hasanudin kemudian diangkat oleh ayahnya, Susuhunan Jati, menjadi Bupati Banten pada 1526.

Setahun kemudian, 1527, Fadillah bersama 1.452 orang pasukannya menyerang dan merebut Pelabuhan Kalapa. Bupati Kalapa bersama keluarga dan para menteri Kerajaan yang bertugas di pelabuhan, gugur. Pasukan bantuan dari Pakuan pun dapat dipukul mundur pleh Fadillah. Keunggulan pasukan Fadillah terletak pada penggunaan meriam yang justru tidak dimiliki oleh laskar Pajajaran.

Bantuan Portugis datang terlambat karena Francisco de Sa yang ditugasi membangun benteng diangkat menjadi Gubernur Goa di India. Kapal Galiun yang dinaiki de Sa dan berisi peralatan untuk membangun benteng terpaksa ditinggalkan karena armada ini diterpa badai di Teluk Benggala, dan baru tiba di Malaka pada 1527.

Dari Malaka, mereka menuju Banten, akan tetapi karena Banten sudah dikuasai Hasanudin, perjalanan dilanjutkan ke Pelabuhan Kalapa. Di Muara Cisadane, de Sa memancangkan padrao pada 30 Juni 1527 dan memberikan nama kepada Cisadane sebagai “ Rio de Sa Jorge ”. Kemudian kapal galiun de Sa memisahkan diri; hanya kapal Brigantin yang dipimpin Duarte Coelho yang langsung ke Pelabuhan Kalapa.

Coelho yang tak mengetahui perubahan situasi yang terjadi, menepi terlalu dekat ke pantai dan menjadi mangsa sergapan pasukan Fadillah. Dengan kerusakan dan korban yang banyak, mereka berhasil meloloskan diri ke Pasai.

Ada pun, setelah Sri Baduga wafat, Pajajaran dengan Cirebon berada pada generasi yang sejajar. Meski yang berkuasa di Cirebon Syarif Hidayat, tetapi di belakangnya berdiri Pangeran Cakrabuana alias Walasungsang atau dikenal pula sebagai Haji Abdullah Iman. Cakrabuana adalah kakak seayah Prabu Surawisesa. Dengan demikian, keengganan Cirebon menjamah pelabuhan atau wilayah lain di Pajajaran menjadi hilang.

Cirebon sebenarnya relatif lemah. Akan tetapi berkat dukungan Demak, kedudukannya menjadi mantap. Setelah kedudukan Demak goyah akibat kegagalan serbuannya ke Pasuruan dan Panarukan di mana Sultan Trenggana tebunuh, kemudian disusul dengan perang perebutan tahta, Cirebon pun turut menjadi goyah pula. Hal inilah yang menyebabkan kedudukan Cirebon terdesak dan bahkan terlampaui oleh Banten di kemudian hari.

Perang Cirebon-Pajajaran berlangsung 5 tahun lamanya. Yang satu tidak berani naik ke darat, yang satunya lagi tak berani turun ke laut. Cirebon dan Demak hanya berhasil menguasai kota-kota pelabuhan. Hanya di bagian timur pasukan Cirebon bergerak lebih jauh ke selatan. Pertempuran melawan Galuh terjadi pada tahun 1528.

Di sini pun terlihat peran Demak karena kemenangan Cirebon terjadi berkat bantuan pasukan meriam Demak tepat saat pasukan Cirebon terdesak mundur. Laskar Galuh tidak berdaya menghadapi “panah besi yang besar yang menyemburkan kukus ireng dan bersuara seperti guntur serta memuntahkan logam panas”. Tombak dan anak panah mereka lumpuh karena meriam Demak. Galuh pun jatuh. Dua tahun kemudian jatuh pula Kerajaan Talaga, benteng terakhir Kerajaan Galuh.

Dengan kedudukan yang mantap di timur Citarum, Cirebon merasa kedudukannya mapan. Selain itu, karena gerakan ke Pakuan selalu dapat dibendung oleh pasukan Surawisesa, maka kedua pihak mengambil jalan berdamai dan mengakui kedudukan masing-masing.

Pada ahun 1531 tercapai perdamaian antara Surawisesa dan Syarif Hidayat. Masing-masing pihak berdiri sebagai negara merdeka. Di pihak Cirebon, yang ikut menandatangani naskah perjanjian adalah Pangeran Pasarean (putra mahkota Cirebon), Fadillah Khan, dan Hasanudin (Bupati Banten).

Membuat Prasasti Batutulis

Perjanjian damai dengan Cirebon memberikan peluang kepada Surawisesa untuk mengurus dalam negerinya. Setelah berhasil memadamkan beberapa pemberontakkan, ia berkesempatan menerawang situasi diri dan kerajaannya.

Warisan dari ayahnya hanya tinggal setengahnya, itu pun tanpa pelabuhan pantai utara yang pernah memperkaya Pajajaran dengan lautnya. Dengan dukungan 1.000 orang pasukan belamati yang setia kepadanya, ia masih mampu mempertahankan daerah inti kerajaannya.

Dalam suasana seperti itulah ia mengenang kebesaran ayahandanya. Perjanjian damai dengan Cirebon memberi kesempatan kepadanya untuk menunjukkan rasa hormat terhadap mendiang ayahnya. Mungkin juga sekaligus menunjukkan penyesalannya karena ia tidak mampu mempertahankan keutuhan wilayah Pakuan Pajajaran yang diamanatkan kepadanya.

Pada tahun 1455 Saka atau 1533, tepat 12 tahun setelah ayahnya wafat, ia membuat sakakala sebagai tanda peringatan buat ayahnya. Ditampilkannya di sakakala itu karya-karya besar yang telah dilakukan oleh Sri Baduga Pajajaran. Itulah Prasasti Batutulis yang diletakkannya di Kabuyutan, tempat tanda kekuasaan Sri Baduga yang berupa Lingga Batu yang ditanamkan.

Penempatannya sedemikian rupa, sehingga kedudukan antara anak dengan ayah amat mudah terlihat. Si anak ingin agar apa yang dipujikan tentang ayahnya dengan mudah dapat diketahui (dibaca) orang. Ia sendiri tidak berani berdiri sejajar dengan si ayah.

Prasasti Batutulis memakai bahasa Sunda Kuno dan terletak di Kelurahan Batutulis, Kec. Bogor Selatan. Sri Baduga yang telah wafat atau purane disebut sebagai Prabu Ratu Purana. Prasati ini berbunyi:

Wangna pun ini sakakala, prebu ratu purane pun. Diwastu diya wingaran Prebu Guru Dewataprana, diwastu diya wingaran Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Pun ya nu nyusuk na Pakwan. Diva anak Rahyang Dewa Niskala Sa(ng) sida mokta dim Guna Tiga, i(n)cu Rahyang Niskala Wastu Ka(n) cana Sa(ng ) sida mokta ka Nusalarang. Ya siya ni nyiyan sakakala gugunungan ngabalay nyiyan Samida, nyiyan Sa(ng ) Hyang Talaga Rena Mahawijaya, ya siya, o o i saka, Panca Pandawa Emban Bumi.

Terjemahan bebasnya:

Semoga selamat, ini tanda peringatan Prabu Ratu Purana (almarhum). Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana, dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) Pakuan. Dia putera Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastukancana yang dipusarakan ke Nusalarang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, membuat punden undakan untuk hutan Samida, membuat Sanghiyang (Telaga) Rena Mahawijaya (yang dibuat) dalam (tahun) Saka Panca Pandawa Emban Bumi (1455).

Batutulis diletakkan agak ke belakang di samping kiri Lingga Batu. Surawisesa tidak menampilkan namanya dalam prasasti. Ia hanya meletakkan dua buah batu di depan prasasti itu. Satu berisi Astatala ukiran jejak tangan, yang lainnya berisi Padatala ukiran jejak kaki.

Pemasangan Batutulis itu bertepatan dengan upacara Sradha, yaitu “penyempurnaan sukma” yang dilakukan setelah 12 tahun seorang raja wafat. Dengan upacara itu, sukma orang yang meninggal dianggap telah lepas hubungannya dengan dunia materi.

Guru Gantangan dalam Babad Pakuan (Babab Pajajaran )

Hampir tiga per empat cerita dalam Babad Pajajaran atau Babad Pakuan mengisahkan “petualangan” Guru Gantangan yang mendapat perintah ayahnya, Prabu Silwangi, untuk mencari calon istri baginya ayahnya yang ditemui dalam mimpi. Babad ini memakai gaya cerita panji menggunakan bahasa Jawa dan dalam bentuk tembang macapat Jawa dan disusun pada tahun 1816-1817, pada masa Bupati Sumedang Pangeran Kornel.

Oleh sebagian ahli, tokoh Guru Gantangan ini diidentikkan sebagai Surawisesa, karena merupakan Prabu Siliwangi yang diidentikkan sebagai Sri Baduga. Nagarakretabhumi pun menyebut nama Guru Gantangan yang diduga besar mengacu kepada Surawisesa.

Selain sebagai Guru Gantangan, Surawisesa pun dalam kisah tradisional dikenal sebagai Munding Laya Dikusuma. Permaisurinya, Kinawati, berasal dari Kerajaan Tanjung Barat yang terletak di daerah Pasar Minggu, Jakarta sekarang. Kinawati adalah putri Mental Buana, cicit Munding Kawati yang semuanya penguasa di Tanjung Barat.

Baik Pakuan maupun Tanjung Barat terletak di tepi Sungai Ciliwung. Di antara dua kerajaan ini terletak kerajaan kecil bernama Muara Beres di Desa Karadenan (dahulu Kaung Pandak). Di Muara Beres in bertemu silang jalan dari Pakuan ke Tanjung Barat terus ke Pelabuhan Kalapa dengan jalan dari Banten ke daerah Karawang dan Cianjur.

Kota pelabuhan sungai ini zaman dahulu merupakan titik silang. Menurut catatan VOC, tempat ini terletak satu setengah perjalanan dari Muara Ciliwung, dan disebut Jalan Banten Lama ( Oude Bantamsche Weg ).

Surawisesa Mangkat; Sang Mokteng Padaren

Surawisesa memerintah selama 14 tahun lamanya. Dua tahun setelah ia membuat prasasti sebagai sakakala untuk ayahnya, ia wafat pada tahun 1535 dan dipusarakan di Padaren.

Di antara raja-raja Pajajaran, hanya dia dan ayahnya yang menjadi bahan kisah tradisional, baik dalam babad maupun pantun. Ia lalu digantikan oleh Ratu Dewata, putranya.