Pada ketinggian ± 2050 di atas permukaan laut terdapat dataran tinggi berukuran ± 1800 m x 800 m, dikelilingi oleh bukit-bukit subur menghijau. Sebagai penggalan puncak gunung berapi dataran tinggi Dieng masih menyimpan banyak kawah, mineral, telaga, air panas,parit-parit dengan air yang jernih, gua-gua, dan lain-lain.
Disela-sela lingkungan alam yang demikian ituhlah nenek moyang kita telah membangun kelompok-kelompok candi.
Daerah itu terletak di antara Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo. Mudah dicapai dengan kendaraan umum maupun pribadi.
Perjalanan dari wonosobo sangat menarik, melewati pedesaan yang subur, makmur, bersih dan masih banyak sisa-sisa tradisi yang bernafaskan nilai-nilai historis masa lalu, kemudian mendaki lereng-lereng terjal yang berpanorama indah.
Table of contents
Open Table of contents
Tempat Bersemayan Dewa Dewi
Dataran tinggi Dieng terletak 30 km dari kota Wonosobo, tepatnya di perbatasan Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Dataran tinggi Dieng memiliki banyak candi-candi kecil kuno yang indah terhampar di kawasan dataran tinggi gunung berapi.
Di tempat ini Anda dapat melihat candi bercorak Hindu dengan arsitektur yang indah dan unik. Selain itu daerah wisata ini juga memiliki Dieng Plateau Theater yang menyediakan informasi keajadian alam di sekitar Dieng.
Bioskop ini mampu menampung 100 kursi, memiliki taman yang asri dan sangat nyaman untuk Anda bersantai sambil dimanjakan dengan panorama indah dari rangkaian pegunungan sekitarnya.
Nama ‘Dieng’ sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “ Di ” yang berarti tempat yang tinggi dan ”Hyang ” yang artinya tempat para dewa dewi. Diartikan kemudian sebagai tempat kediaman para dewa dan dewi. Ada juga yang mengartikannya dari bahasa Jawa yaitu “ adi ” berarti indah, berpadu dengan kata “ aeng ” yang artinya aneh. Penduduk setempat kadang mengartikannya sebagai tempat yang indah penuh dengan suasana spiritual.
Dataran tinggi Dieng bagaikan negeri di atas awan. Terhampar di ketinggian 2.000 m di atas permukaan laut membuat udaranya sejuk dan menyegarkan serta ditutupi kabut tebal. Karena keindahannya yang menakjubkan inilah diyakini bahwa Dieng dipilih sebagai tempat yang sakral dan tempat bersemayamnya dewa dewi.
Anda akan melihat lumpur mendidih yang mengeluarkan gelembung, danau belerang berwarna cerah, dan kabut tebal yang menyelimuti dataran tinggi Dieng. Melihat, merasakan, dan membayangkan tempat ini secara langsung akan membuat Anda memahami mengapa masyarakat Jawa menganggap Dieng sebagai tempat yang memiliki kekuatan supernatural. Saat terpesona dengan keindahan alam Dieng maka Anda sekaligus juga merasakan getaran misterius di tempat ini.
Kawasan Dieng memiliki banyak candi-candi kecil yang dinamai tokoh-tokoh cerita epik Mahabrata seperti Bima, Gatot kaca, Arjuna dan Srikandi. Diyakini bahwa candi-candi ini dulu digunakan sebagai tempat tinggal para pendeta yang menyebarkan ajaran Hindu.
Keindahan pemandangan alam kawasan Dieng telah banyak memukau wisatawan yang datang dan memberi kesan mendalam secara pribadi. Mulai dari danau-danau berwarna hijau dan kuning, airnya yang jernih dapat menjadi cermin, keindahan alam kawasan ini sungguh luar biasa. Danau cermin ini merupakan fenomena keindahan dataran tinggi Dieng yang sungguh mengagumkan.
Jika Anda mendaki ke atas dataran tinggi Dieng maka seolah berada di puncak dunia. Anda akan mendapatkan pengalaman yang luar biasa saat melihat pemandangan danau yang berwarna-warni dan berkabut tebal di sekelilingnya.
Bila itu belum cukup dan Anda ingin merasakan pengalaman yang lebih spektakuler maka datanglah ke dataran tinggi Dieng untuk melihat matahari saat terbit dan terbenam dengan warna keemasan dan keperakan yang luar biasa. Sunrise yang indah ini merupakan fenomena alam yang unik dan mengagumkan apalagi bila Anda melihatnya dari atas candi.
Saat perjalanan menuju ke daratan tinggi Dieng ini Anda akan melewati perkebunan tembakau dan pemandangan gunung yang indah.
Menelisik fenomena anak gimbal atau penduduk setempat menyebut “anak gembel” yang tinggal di Dataran Tinggi Dieng merupakan pengalaman yang unik. Menurut kepercayaan warga setempat, anak gimbal merupakan anugerah dari para dewa sehingga fenomena ini patut disukuri.
Biasanya jika rambut anak gimbal dipaksakan dipotong, maka si anak akan cenderung sakit-sakitan, dan anehnya rambut gimbal anak-anak gimbal tidak secara alami tumbuh ketika mereka dilahirkan, namun tumbuh saat usia mereka menginjak 1-2 tahun.
Akomodasi : Banyak wisatawan yang tinggal di Wonosobo dan berjalan-jalan seharian di Dieng. Jika Anda ingin tinggal di desa sekitar Dieng, ada banyak losmen kecil dan hotel di sini. Anda juga dapat tinggal di rumah penduduk yang dapat disewa dengan harga relatif murah.
Transportasi : Cara termudah untuk sampai ke dataran tinggi Dieng ialah dengan mengendarai mobil. Dieng berada di Jawa Tengah, berjarak sekitar 3 jam perjalanan dari Yogya atau hanya 25 km dari Wonosobo. Siapapun dapat menyambangi wilayah yang indah ini bahkan dengan transportasi umum.
Jika Anda menggunakan transportasi umum maka Anda dapat menggunakan bus dari Yogya ke Magelang dan ke Wonosobo. Dari Wonosobo, gunakanlah minibus menuju Desa Dieng. Kawasan Dieng dapat dijangkau dengan berjalan kaki dari Desa Dieng. Jika Anda mengendarai mobil, maka Anda dapat parkir di tempat sekitarnya.
Tips : Karena udaranya yang sejuk dengan temperatur sekitar 15° Celcius sepanjang hari, maka jangan lupa untuk membawa baju hangat atau sweater. Disarankan untuk meninggalkan kawasan Dieng sebelum malam hari karena Dieng biasanya mulai ditutupi kabut yang tebal sejak sore hari.
Pesona Candi Dieng Sebagai Situasi Percandian
Sungguh sayang sisa-sisa bangunan suci dari leluhur kita itu tinggal yang terbuat dari batu bata andesit saja, itupun banyak yang rusak dan hilang.
Dari sisa-sisa itu dapat kita kenali bahwa dahulu telah dibangun beberapa kelompok percandian yang letaknya terpencar-pencar dengan nama-nama dari dunia pewayangan. Dari sebelah utara keselatan kita dapatkan kelompok-kelompok seperti berikut:
Dwarawati
Dahulu kelompok ini terdiri dari dua buah candi, yakni Candi Dwarawati di sebelah timur dan Candi Parikesit di sebelah barat, yang masih berdiri sekarang tinggal Candi Dewarawati saja.
Denah Candi Dwarawati berbentuk empat persegi panjang berukuran 5 m x 4 m, tinggi 6 m, dilengkapi penampilan pada setiap sisinya. Relung-relung tempat arca sudah kosong, kecuali sebuah alas arca di dalam bilik candi (dhatu garba).
Lembaran logam yang terdapat di sini antara lain menyebut Wisnu. Atap candi berhias menara-menara kecil, pengaruh India Selatan, juga dihias simbar-simbar dengan lukisan kepala. Candi Dwarwati menghadap ke barat.
Pertirtaan Bimo Lukar
Pertirtaan ini berupa kolam bermata air jernih alirannya cukup deras berukuran 5 m x 2,5 m x 1 m. bangunannya terdiri atas susunan baru berhiaskan relief. Airnya disalurkan melalui beberapa pancuran. Air merupakan salah satu sumber kehidupan, di samping sarana pembersih kotoran.
Kelompok Candi Arjuna
Kelompok Arjuna merupakan kelompok terbesar. Kalau orang mengatakan Candi Dieng, biasanya yang dimaksud adalah kelompok Candi Arjuna, padahal sebenarnya masih banyak kelompok yang lain. Kelompok yang memanjang dari utara ke selatan ini terdiri atas dua deretan yakni deretan sebelah timur dan sebelah barat.
Deretan sebealh timur semua menghadap ke barat dan terdiri atas beberapa bangunan candi yakni: Candi Arjuna Srikandi, Punta Dewa, Sembadra, deretan sebelah barat tinggal satu yang masih berdiri, yakni Candi Semar yang berhadapan dengan Candi Arjuna.
Berbeda dengan kelompok Dwarwati yang denahnya empat persegi panjang candi-candi kelompok Arjuna berdenah bujur sangkar, tanpa penampil, hanya dibagian depan terdapat bilik pintu masuk yang menjorok ke depan. Pada dinding terdapat relung-relung dan hiasan-hiasan, di bagian depan berhias kala-makara atapnya pun kaya akan hiasan.
Sayangnya kebanyakan candi ini sudah rusak dan beberapa diantaranya tinggal fondasi saja.
Sebenernya ± 200 m di sebelah barat daya kelompok ini terdapat sisa-sia bangunan, tetapi susah sulit diidentifikasi karena tinggal fondasi-fondasi saja, dikenal sebagai Candi Setyaki, Petruk, Antareja, Nala Gareng, Nakula dan Sadewa.
Kelompok Candi Gatotkaca
Candi Gatotkaca tempatnya agak tinggi dibandingkan dengan kelompok Arjuna yakni di sebalah barat telaga Bale Kambang dan di lereng bukit Panggonan.
Menghadap ke barat, berdenah bujur sangkar berukuran 4,5 m x 4,5 m tinggi 5,5 m, dengan penampilan pada masing-masing sisanya. Rupanya dahulu terdiri atas dua bangunan yang terletak di atas sebuah batur.
Kelompok Candi Bima
Kelompok Candi Bima kini tinggal satu candi saja, terletak pada deretan ujung paling selatan, menghadap ke timur. Baturnya bujur sangkar berukuran 6 m x 6 m, sedangkan fondasi berbentuk segi delapan, tinggi 8m. dibandingkan dengan candi-candi lainnya termasuk paling utuh gaya bangunan khusus.
Atap yang penuh hiasan itu terdiri dari tiga tingkatan yang batas-batasnya tidak jelas. Bentuk seluruhnya seperti Sikara di India Utara, sedangkan hiasan-hiasan menara dan relung-relung yang berbentuk tapal kuda itu menunjukan pengaruh India Selatan.
Koleksi Arca
Sisa-sia bangunan lainnya sudah hamper lenyap, seperti Candi Abiyasa, candi Pandu, Candi Magersari dan lain-lain. Di samping itu di kompleks ini telah dibangun sebuah balai informasi sekaligus untuk menyimpan arca dan fragmen yang telah lepas dari konteksnya.
Di sini kita jumpai beratus-ratus arca, yoni, lingga dan potong-potongan batu sisa bangunan candi. Di antara arca-arca itu terdapat arca Dewa Brahma, Wisnu, SIwa, Durga, Ganesha.
Pesona Candi Dieng dalam Catatan Sejarah
Menilik namanya Di-Hyang, lokasinya di atas gunung, keadaan alamnya dengan unsur air, gua, kawah berapi, ditunjang lagi dengan pernah ditemukannya arca nenek-moyang yang sederhana, sangat besar kemungkinan bahwa daratan tinggi Dieng sudah merupakan tempat suci sejak masa pra-Hindu atau sejak masa Prasejarah.
Tempat suci sebagai sasana bersemayamnya arwah leluhur banyak mendapat pemujaan sejak masa pra-sejarah bahkan hingga sekarang.
Sifat suci daerah itu dimanfaatkan terus pada masa pengaruh Hindu dengan dibangunnya candi-candi tempat pemujaan untuk para Dewa, khususnya Dewa-Dewa Trimurti terutama Siwa seperti terdapat arca-arcanya pada ruang koleksi.
Candi-candi ini termasuk generasi candi yang tua di Indonesia, yang dibangun sekitar abad ke-8 M, ditandai antara lain kesederhanaan ini juga tampak pada seni pahatnya yang menghasilkan arca-arca maupun relief-relief sebagai hiasan.
Prasasti yang ditemukan di daratan tinggi Dieng terdapat angka tahun 713 saka (809 M). Jadi sekurang-kurangnya Candi Dieng berfungsi sejak abad 9 hingga 13 Masehi.
Setelah makna dan fungsi semula candi-candi itu tidak begitu difahami lagi oleh masyarakat setempat sedangkan kesuciannya masih mereka yakini, maka candi-candi diasosiasikan dengan dunia pewayangan yang mereka yakini sebagai tokoh-tokoh historis.
Pelestarian dan Pengembangan
Dataran tinggi Dieng memang sangat fantastis seandainya dapat dibuat suatu ‘taman purbakala’ dengan desain yang matang. Sayang sekali keadaannya sekarang bukan hanya terdesak melainkan sudah terhimpit oleh kepentingan-kepentingan lain yang bersifat sosial-ekonomis seperti pertanian, perumahan, perusahaan, pasar, dan lain-lain sehingga suasananya sebagai cagar budaya makin sempit.
Usaha-usaha untuk melindungi, memelihara, fungsionalisasi oleh Pemerintah memang terus diusahakan tentunya bantuan dari masyarakat juga sangat diharapkan. Sayang sekali kalau cagar budaya yang tiada duanya ini terdesak terhimpit, terbengkalai kemudian punah. Siapa yang akan kehilangan? Ya, kita semua tentu saja.